Fatwa MUI Tentang Trading Saham Untuk Panduan Awal

Sebagai umat Islam, sebelum memutuskan untuk turut terjun dalam trading saham, memahami hukum dari trading saham adalah hal penting. Dengan pengetahuan terkait hukum dasar tersebut, tentu Anda –sebagai muslim, bisa mendasarkan aktivitas yang dilakukan sesuai dengan kaidah agam. Hal ini juga didasarkan pada ajaran Islam yang mengatur setiap aktivitas pemeluknya.

Terkait hukum trading saham, salah satu pendapat yang bisa dijadikan dasar adalah fatwa dari MUI. Sebagai lembaga otoritas tertinggi yang mengurusi tentang hukum Islam di Indonesia, tentu pendapat yang dikeluarkan MUI memiliki legalitas serta aspek hukum kuat setelah melalui penelitian mendalam.

Lantas, bagaimana fatwa MUI tentang trading saham tersebut?

Sekilas Tentang Trading Saham

Secara singkat, saham merupakan surat berharga yang menjadi bukti kepemilikan dalam suatu perusahaan. Dalam hal ini, bisa dikatakan jika saham termasuk jenis investasi yang cukup diminati. Hal ini dikarenakan investasi di bidang saham tersebut akan memberikan keuntungan yang cukup besar.

Pelaku bisnis juga perlu membedakan antara trading saham dan investasi saham. Pada pengertiannya, trading saham adalah aktivitas yang dilakukan untuk transaksi jual beli dalam jangka waktu pendek. Di sisi lain, investasi saham umumnya memiliki orientasi jangka panjang yang didasari pada proses analisis panjang terlebih dahulu.

Pendapat MUI Tentang Pasar Modal dan Trading Saham

MUI sebagai otoritas tertinggi hukum Islam di Indonesia secara khusus melakukan penelitian terkait hukum trading saham yang dikaitkan dengan pasar modal. Penelitian yang dilakukan tersebut tertara dalam detail fatwa DSN Nomor 40.

Adapun beberapa pendapat terkait fatwa yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  • Pendapat pertama

Melakukan tindakan muamalat dengan cara melakukan sebuah transaksi jual beli saham yang diperbolehkan. Hal ini didasarkan pada pemilik ataupun pemegang saham merupakan mitra dari sebuah perusahaan yang memiliki porsi saham dengan jumlah tertentu.

  • Pendapat kedua

Saham yang diperbolehkan dalam perdagangan yang dimaksud adalah sama dari perusahaan dagang serta perusahaan manufaktur. Dalam hal ini, melakukan kerja sama dan melakukan transaksi saham pada suatu perusahaan merupakan hal yang diperbolehkan.

Hanya saja, ada ketentuan bahwa perusahaan tersebut haruslah ada. Artinya, perusahaan yang dimaksud bukan perusahaan fiktif dan mengandung ketidakjelasan. Hal ini sangat penting karena saham merupakan bagian dari kepemilikan modal di mana nantinya ada bagi hasil dari kegiatan bisnis yang dilakukan.

  • Pendapat ketiga

Menjual dan menjaminkan suatu paham adalah hal yang diperbolehkan. Hanya saja, sada beragam peraturan yang harus diperhatikan, terutama oleh perusahaan tersebut.

Dari beberapa pendapat di atas, bisa dikatakan secara hukum, fatwa MUI memberikan dasar kebolehan untuk melakukan trading saham. Hanya saja, ada beberapa persyaratan yang harus diperhatikan lebih lanjut, terutama mengenai kejelasannya.